Wednesday, February 13, 2008

Hasil Kompetisi International Moot Court Tingkat Nasional

MAHASISWA HUKUM INDONESIA AKAN “MEMUKUL” LAWAN-LAWANNYA DI WASHINGTON D.C.

Mahasiswa Hukum asal Universitas Indonesia dan Universitas Parahyangan akan mewakili Indonesia dalam kompetisi peradilan semu internasional (international moot court competition) pada bulan Maret mendatang di Amerika Serikat.

Mereka adalah tim pemenang dari kompetisi Moot Court tingkat Nasional setelah mengalahkan para pesaingnya yang juga merupakan mahasiswa hukum S1 lainnya dalam the 2008 Phillip C. Jessup International Law Moot Court Competition di Jakarta.

Kemenangan tersebut meloloskan mahasiswa UI dan Parahyangan untuk ikut serta dalam salah satu kompetisi internasional paling bergengsi bagi Mahasiswa Hukum pada bulan Maret dan April mendatang di Washington D.C. Di lokasi tersebut, mereka akan menghadapi lawan-lawannya dari berbagai penjuru dunia.

Kegiatan ini merupakan kompetisi kali ke-7, di mana untuk tahun ini dilaksanakan atas kerjasama antara Indonesian Society for International Law dan Mahkamah Konstitusi RI. Kompetisi yang diselenggarakan di dalam gedung Mahkamah Konstitusi ini telah membuktikan tingkat kemampuan para mahasiswa hukum Indonesia untuk mengambil peran dan partisipasi dalam berbagai kegiatan hukum internasional.

Dua puluh tim universitas negeri dan swasta dari seluruh penjuru Indonesia turut ambil bagian dalam kompetisi kali ini. Mereka adalah Universitas Airlangga, Universitas Andalas, Universitas Katholik Atma Jaya, Universitas Bhayangkara, Universitas Borobudur, Universitas Brawijaya, Universitas De La Salle Indonesia, dam Universitas Hasanuddin, Universitas Islam Indonesia, Universitas Negeri Manado, Universitas Padjadjaran, Universitas Katholik Parahyangan, Universitas Tarumanagara, Universitas Trisakti, Universitas Al Azhar Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Internasional Batam, Universitas Pelita Harapan, Universitas Sumatera Utara, dan Universitas Surabaya.

Kegiatan ini juga dihadiri oleh 48 ahli hukum Indonesia yang berasal dari latar belakang profesi yang berbeda, seperti Hakim, Praktisi Hukum, Akademisi dan Dosen, serta Pengacara yang berasal baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Gary F. Bell, salah satu ahli hukum internasional yang menjadi juri pada persidangan babak final, mengatakan bahwa mahasiswa hukum Indonesia telah menunjukan kemampuan kelas dunianya dalam hukum internasional. Juri lainnya, yaitu Mr. Nobuo Hayashi, Penuntut Umum pada International Criminal Tribunal of the Former Yugoslavia, dan Mr. Anees Ahmed, Penuntut Umum pada Criminal Tribunal of Cambodia for Khmer Rouge, memberikan impresi yang positif terhadap perkembangan para ahli hukum Indonesia di masa yang akan datang.

Prof. Hikmahanto Juwana, ahli hukum internasional Universitas Indonesia yang juga menghadiri perhelatan akbar tersebut mengatakan bahwa kompetisi merupakan wadah yang sangat baik bagi para calon pengacara Indonesia untuk mempersiapkan diri mereka pada pengadilan internasional.

Lebih lanjut, Prof. Jimly Asshiddiqie, Ketua Mahkamah Konstitusi RI, sangat terkesan dengan kemampuan dan penampilan para peserta dalam menguasai prosedur dan substansi pengadilan internasional. Beliau mengatakan bahwa para peserta sudah menunjukan kemampuan profesional layaknya para pengacara internasional.

Sebagai pemenang, Universitas Indonesia memperoleh Mochtar Kusuma Atmaja Award yang diberikan oleh Mahkamah Konstitusi. Sementara itu, peghargaan the Best Oralist pada babak final jatuh kepada Edwina Kharisma dan Fitria Chairani dari Universitas Indonesia. Mereka berhak memperoleh beasiswa untuk melanjutkan program LL.M di National University of Singapore (NUS).

Tentunya kita semua berharap dan memberikan dukungan penuh agar para delegasi Indonesia dapat membawa pulang berbagai penghargaan pada Kompetisi Peradilan Semu Internasional mendatang di Washington D.C. demi mengibarkan nama harum ibu pertiwi, Republik Indonesia.

Adapun daftar para pemenang secara keseluruhan adalah sebagai berikut:

1. Spirit of Jessup - Universitas Internasional Batam
2. Third Best Memorial - Universitas Pelita Harapan
3. Second Best Memorial - Universitas Padjadjaran
4. Best Memorial - Universitas Parahyangan
5. Third Best Oralist - Vincent Bellamy, Universitas Parahyangan
6. Second Best Oralist - Fitria Chairani, Universitas Indonesia
7. Best Oralist - Rivana Mezaya, Universitas Indonesia
8. Second Runner Up - Universitas Padjadjaran
9. First Runner Up - Universitas Parahyangan
10. Champion - Universitas Indonesia

3 comments:

Anonymous said...

International Moot Court ya,, saya lagi googling soal Moot Court, soalnya saya ingin masuk FH UGM. Waktu itu saya pernah dikasih tau kalo Moot Court-nya anak FH UGM kurang kedengeran. Emang begitu Mas? Soalnya saya ngebet banget pengen masuk FH UGM dan sekarang lagi menunggu pengumuman seleksi UGM..

Unknown said...

hi rizky..pengen jadi lawyer yah?ato hakim?hm...memang terkadang kita bingung milih kampus. dan kadang malah kita bingung untuk milih jurusan. waktu aku pilih beberapa FH yang ingin aku masukin, aku akhirnya memilih dg faktor iklim. tidak UI dan urung UGM hanya karena panas. jadi pilihan tinggal 2 wktu itu, bandung dan malang. pada akhirnya malang lah yang aku pilih. setelah lulus, aku baru sadar klo ternyata berbagai FH yang ada punya logika berfikir yang beda. dan itu baru dsadari pas kita lulus. kita dibentuk oleh mereka. UGM cenderung konservatif tp kuat dalam fondasi aliran pemikiran yang dipakai. UI, cepat update perkembangan tapi mengabaikan berbagai kekhususan lokal (indonesia). in my personal opinion, bukan untuk membedakan kapitalism dan paham kerakyatan, tp sekedar mo sharing apa yang aku liat setelah menjebakan diri di bidang hukum.

no offence lho rek..

Anonymous said...

S1 saya FHUGM. Lalu saya melanjutkan S2 di FHUI, sekadar untuk membuktikan mana yang lebih bagus, di UGM atau di UI. Hasil diskusi dengan mahasiswa" S1 dan pengalaman kuliah S2 UI saya mendapati perbedaan mendasar adalah, mahasiswa UGM lebih kritis dan disiplin karena aturan kampus lebih ketat daripada di UI. Tapi tetap saja tidak bisa menghilang kesan 'nrimo' nya, karena lebih mudah mendapatkan nilai di UGM, dosen yang tidak transparan memberikan nilai bisa kena semprit, beda dengan di UI yang tidak mudah mendapat nilai, karena dosen lebih cenderung pelit memberikan nilai, mungkin itulah yang membuat mahasiswa UI lebih tinggi dalam memberikan 'harga' untuk dirinya, ya karena sulitnya mencari nilai. Untuk manajemen pendidikan lebih bagus UGM, karena aturan perkuliahan lebih disiplin dan itu berlaku untuk baik dosen maupun mahasiswa. Untuk sibuknya perkuliahan, UGM lebih sulit karena perkuliahan lebih banyak dua arah, jauh lebih banyak tugas, lebih banyak presentasi, dan materi nya lebih sulit. FHUI meskipun mendapatkan nilainya lebih sulit, namun materinya lebih gampang. Untuk urusan link, lebih bagus UI, dekat dengan ibukota. Lulusan UI lebih banyak yang bekarier sebagai pengacara. UGM lebih banyak yang menjadi PNS/pegawai BUMN. Semua ada kekurangan dan kelebihan, tapi menurut FH UGM masih yang terbaik, no offence.