Friday, October 12, 2007

India yang (Sengaja) Dilupakan?

MENANTI KEPALA PERWAKILAN YANG TAK KUNJUNG TIBA
Oleh: Pan Mohamad Faiz, New Delhi (India)*

Pentingnya kehadiran Perwakilan RI di seluruh dunia merupakan suatu keniscayaan. Selain sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Indonesia di luar negeri, Perwakilan RI juga dapat menjadi ujung tombak kerjasama antarnegara di berbagai bidang, mulai dari kerjasama perdagangan, politik, pendidikan, hingga sosial budaya.

Namun apa yang akan terjadi bilamana suatu Perwakilan RI tidak mempunyai Kepala Perwakilan (Duta Besar) yang memiliki fungsi penting sebagai pengambil kebijakan strategis di negara yang bersangkutan. Ibarat perahu layar tanpa nahkoda, tentunya berbagai kebijakan penting yang seharusnya dapat diambil seakan kehilangan arah dan tak menentu.

Kondisi inilah yang terjadi dalam institusi Perwakilan RI untuk India untuk saat ini. Sudah setahun lebih Perwakilan RI di New Delhi tidak memiliki ”Kepala Keluarga”. Padahal, posisi ini penting sekali untuk menjaga hubungan bilateral dan kerjasama kedua belah pihak. Terjadinya kekosongan posisi Duta Besar RI untuk India yang cukup lama tersebut telah menyebabkan kerugian materil maupun imaterial. Berbagai kegiatan multi-internasional yang seharusnya dapat kita pelihara dan tingkatkan, mulai dari kedatangan Wakil Presiden RI hingga berbagai penandatanganan kerjasama antara Indonesia-India, tidak ada satupun yang dihadiri oleh sang Duta Besar. Inilah yang menyebabkan terjadinya keprihatinan cukup mendalam dari segenap warga negara Indonesia di India, khususnya mereka yang kini sedang menempuh pendidikan di seluruh penjuru negeri India.

Memang benar saat ini kita mempunyai Kuasa Ad Interim (KUAI) sebagai pemangku jabatan sementara selama posisi Duta Besar belum diangkat. Namun yang perlu diingat di sini adalah bahwa kita sedang ”bermain” dengan negara sekaliber India. Dengan berbagai keunggulannya saat ini, India telah menjadi pemain global di berbagai sektor kehidupan dengan penguasaan teknik diplomasi tingkat tinggi. Hal ini terbukti dengan ”membanjirnya” kunjungan kenegaraan Kepala Pemerintahan maupun kerjasama dari negara-negara Super Power, seperti Amerika, Rusia, Cina, Perancis dan Jepang dalam satu tahun belakangan ini.

Berulang kali ketidakhadiran orang nomor satu Perwakilan RI dalam peringatan besar India juga telah menimbulkan sedikit keraguan akan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam membina hubungan kerjasama dengan India. Padahal, bersama-sama dengan Cina, India kini telah menjadi ”the Asian Tigers” dengan tingkat pertumbuhan ekonomi dan nilai investasi yang amat menjanjikan.

Bahkan jika kita rajut lebih mendalam, antara Indonesia dengan India sebenarnya telah mempunyai sejarah perjuangan dan jalinan kerjasama yang telah terbina sejak lama. Masih segar dalam ingatan kita, bagaimana para cendekiawan Indonesia di masa-masa perjuangan kemerdekaan belajar dan berguru bersama dengan para Gandhian di negeri India guna menolak terjadinya kolonialisasi negara-negara barat. Namun kini yang terjadi, sepertinya Indonesia seringkali membuang muka ketika mendengar kata ”India”, atau jika tidak mau kita katakan ”dengan sengaja” melupakan India.

Proses penyeleksian Duta Besar oleh Pemerintah Pusat untuk kemudian diserahkan kepada Komisi I DPR-RI untuk dipilih, sudah seharusnya mulai diperhitungkan dan dijaring dari jauh-jauh hari sebelum selesainya masa kerja Dubes terdahulu. Hal ini tentunya berlaku bukan hanya pada kasus India, tetapi pada Perwakilan RI di seluruh dunia. Hasilnya, hingga saat ini pun belum juga muncul penyerahan nama-nama calon pengisi Duta Besar RI untuk India guna dipilih.

Tujuh Kepala Perwakilan RI yang telah dilantik sebulan yang lalu, tidak ada satupun yang ditempatkan di India. Rasa-rasanya terlalu banyak kesempatan berharga yang terbuang sia-sia selama terjadinya kekosongan ini. Tentunya kita berharap, panjangnya proses pemilihan calon Duta Besar RI untuk India, merupakan suatu bentuk kepedulian dan keseriusan yang sungguh-sungguh dari Pemerintah untuk mendapatkan Duta Besar yang benar-benar tough and smart untuk diterjunkan di medan diplomasi sekelas India.

Bukan hanya kemampuan manajemen institusi kepemerintahan saja yang diperlukan, tetapi calon yang terpilih harus juga menampilkan kepiawaiannya dalam melakukan komunikasi aktif dan diplomasi total dengan para pejabat India selama penugasannya. Jika tidak, alih-alih keinginan agar terjadinya peningkatan kerjasama bilateral di multibidang antara Indonesia dan India, namun justru yang terjadi adalah India akan semakin meninggalkan Indonesia sebagai ”sahabat lama”-nya dalam konteks perjuangan negara-negara berkembang di dunia.

* Penulis adalah Ketua Umum Dewan Pimpinan Perhimpunan Pelajar Indonesia di India (PPI-India). Tulisan ini merupakan pendapat pribadi. Penulis dapat dihubungi melalui pan.mohamad.faiz@gmail.com.

3 comments:

RWI said...

Kutipan dari Milis PPI-India:

Tulisan bagus buat menggugah pihak2 di indonesia yg terkait dgn wewenang pengisian keppri definitif utk india. selamat! tapi, sedikit koreksi/klarifikasi bole yak?

"Berulang kali ketidakhadiran orang nomor satu Perwakilan RI dalam peringatan besar India juga telah menimbulkan sedikit keraguan akan keseriusan Pemerintah Indonesia dalam membina hubungan kerjasama dengan India"

mungkin maksudnya DUBES kali ya bang? kalo itu sih, iya bener tuh ... 26 januari n 8 agustus n 15 agustus kemaren.... dubes ri emang gak ada yg hadir tuuh... tapi kalo org nomor satu (satuan) kbri ND sih selalu nongol kok di tiga2nya.

thx brt n selamat lebaran buat semuanya!

- KUAI KBRI NEW DELHI -

Pan Mohamad Faiz said...

Betul Pak, sudah pasti yang saya maksud adalah DUBES. Kalimat tersebut harus dipadankan dan dibaca satu nafas dengan paragrap sebelumnya. Terima kasih atas tanggapannya. Semoga diberikan kemudahan dalam mengemban amanah menjadi orang "nomor setengah" untuk saat ini.

S.S. said...

Kutipan dari Milis PPI-India:

assalamualaikum wr wb.

Slamat berhari raya dahulu, besok pagi kan. kalau kita
mah ikut pemrintah yak hari ini, tetapi kalau ikut
muhammadiyah yah kemarin. India mah lebarannya memang
selalu terlambat.

Ini kisah nyata.
Empat tahun bertugas di India, sebagai koordinator
pelaporan mingguan dan laporan khusus dan pengalaman
serta pengamatan sendiri India itu adalah kekuatan
global dunia. Tapi ternyata untuk Indonsia yang selalu
melihat ke Utara (China, Jepang dan Korea), India
adalah negara biasa saja. Usul untuk meningkatkan
status perwakilan RI dari sekarang D2 menjadi D1 (ada
Wakil Dubes) itu juga tidak ditanggapi, sebaliknya
Korea (selatan) jadi D1 sejak tahun 2005 lalu. Usul
mempunyai perwakilan Konsulat permanen di Chennai
(Madras) pun untuk membuka peluang perdagangan
ekonomi dan sosbud dengan India bagian Timur
(notabene) hanya 2 jam perjalanan dari Medan, tidak
ditanggapi pusat.Malahan status perwakilanpun katanya
akan diturunkan jadi D3, lihat staf perwakilan yang
dikirim sekarang semua penempatan pertama atau kedua.
Pak Rizali dan bu Fintje dianggap terlalu senior
dengan pangkat Minister Coounsellor. India meminta
Duta Besar sekaliber Dubes RI kita di Beijing (pak
Sudradjat),nampakny a permohonan itu terlalu berat bagi
pihak Indonesia untuk memenuhinya. cari yang muda
susah cari yang tua, sudah tak ada,mengapa karena
semua Direkturnya muda-muda, yang tua-tua seperrti
angakatan pak Rizali kalau di dalam negeri terbuang
percuma (feeding away genration) yang dimulai dari
saya dan terus berlanjut. SAda beberapa pandangan
bahwa managemen di Deplu, tergantung sepenuhnya selera
penguasa pejambon no. 6. Siapa yang paling beliau
sukai, , jadilah terutama dari direktorat-direktor at
tertentu. Karena hanya satu ja masih tanda
tanya.wabannya slamat menjalankan tugas Kuai yang
kapan akan berakhir. Dalam hubungan diplomatik hal ini
sangat merugikan posisi Indonesia karena India
dianggap tidak penting. Jangan salah kita lihat sikap
India nanti dengan azas reciprocal yang lakukan yang
sama. Yang rugi kalian-kalian juga. Mungkin lobby
India tidak setangguh lobby China , Jepang dan Korea.
volume perdagangannya terus meningkat, zwmentara
dwengan India,meingkat karena kita jual Crude Oil
(minyak kelapa sawit). Slamat berprihatin. masa deoan
bangsa ada di tangan ananda semua. Salam.