Monday, December 18, 2006

Status Anak Luar Kawin

TANYA JAWAB TENTANG STATUS ANAK LUAR KAWIN

Menanggapi pertanyaan yang disampaikan oleh Sdr. Adit (Universitas Brawijaya) dan Ibu Riku (Individual) mengenai “Status Anak Luar Kawin dari Perkawinan Campuran” (red- dari pasangan beda bangsa/campuran), secara ringkas berikut analisa yang dapat diberikan:

Berdasarkan ketentuan hukum Indonesia, Pasal 43 ayat (1) UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa "Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya". Oleh karena itu, apabila sang Ibu berkewarganegaraan Indonesia, maka si Anak akan mengikuti warga negara dan hukum sang Ibu. Bila sang Ibu berkewarganegaraan asing maka si Anak akan ikut warga negara ibunya yang WNI. Hal ini juga diatur dalam UU No. 12 Tahun 2006 (“UU 12/2006”) tentang Kewarganegaraan (UU Kewarganegaraan yang baru) dalam Pasal 4 huruf g, mengenai siapakah yang bisa disebut sebagai warga negara Indonesia, yaitu:

“Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu Warga Negara Indonesia”

Lalu bagaimana dengan anak luar kawin yang ibunya WNA dan ayahnya WNI, tetapi sang ayah mau mengakui Anak tersebut sebagai Anaknya? UU 12/2006 juga telah mengatur mengenai hal tersebut, di mana dalam Pasal 4 huruf h tercantum bahwa WNI adalah:

“Anak yang lahir di luar perkawinan yang sah dari seorang ibu warga negara asing yang diakui oleh seorang ayah Warga Negara Indonesia sebagai anaknya dan pengakuan itu dilakukan sebelum anak tersebut berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin”.

Kemudian bagaimana dengan anak luar nikah yang ibunya WNI lalu ayahnya WNA tapi sang ayah mau mengakui anak tersebut? Berdasarkan pasal 5 (1) UU 12/2006, dijelaskan:

“Anak Warga Negara Indonesia yang lahir di luar perkawinan yang sah, belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin diakui secara sah oleh ayahnya yang berkewarganegaraan asing tetap diakui sebagai Warga Negara Indonesia”.

Tetap diakuinya anak-anak tersebut diatas sebagai WNI berdasarkan Pasal 6 UU 12/2006 menyebabkan anak-anak ini mempunyai kewarganegaraan ganda sampai usianya 18 tahun atau sudah kawin, di mana ia dibolehkan untuk memilih kewarganegaraannya. Pernyataan untuk memilih kewarganegaraan disampaikan secara tertulis kepada Pejabat yang ditugaskan oleh menteri untuk mengurusi bidang kewarganegaraan, dengan dilampiri dokumen sesuai peraturan perundangan.

Anak-anak yang lahir dari hubungan luar kawin lalu diakui atau diakui secara sah oleh ayahnya yang WNA atau WNI, seperti tersebut diatas, dan ia belum berusia 18 (delapan belas) tahun atau belum kawin memperoleh Kewarganegaraan Republik Indonesia berdasarkan Undang-Undang 12/2006 dengan mendaftarkan diri kepada Menteri melalui Pejabat atau Perwakilan Republik Indonesia paling lambat 4 (empat) tahun setelah Undang-Undang ini diundangkan.

Demikian penjelasan yang dapat diberikan semoga membantu.

Salam,

Jurnal Hukum PMF

10 comments:

Anonymous said...

Saya sudah menikah dengan WNA philipines selama 2 tahun dan sudah mempunyai anak, sampa saat ini saya belum mempunyai surat niha resmi dari KUA dikarenakan penipuan dari oknum KUA. Saat ini saya merencanakan untuk membuat surat nikah resmi dari KUA setempat tetapi pejabat KUA memberitahukan bahwa anak saya akan dianggap sebagai anak diluar nikah karena tanggal lahir anak sebelum pernikahan dilangsungkan. Adakah cara untuk mengakui anak saya sebagai buah pernikahan kami tanpa proses pengadilan? Saya pernah membaca bahwa anak saya bisa diakui bila pejabat KUA memberi codicil di akta lahir anak saya bahwa anak ini merupakan hasil pernikahn sah...Mohon diberikan penjelasan

Anonymous said...

Yth,

saya mempunyai anak laki laki berumur 9 tahun luar nikah dengan WNA. yang menjadi pertanyaan saya adalah:

1. Apakah ayah biologis anak saya tersebut dapat mengambil anak saya secara hukum mengingat selama ini memberikan bantuan finansial untuk anak saya?

2. Bila ayah anak saya dapat menyewa pengacara terbaik di jakarta, adakah kemungkinan saya untuk menang, mengingat saya secara ekonomi tidak dapat menyewa pengacara terbaik?

3. Apakah yang harus saya lakukan?
Apakah saya harus mempersiapkan pengacara juga? Apakah LBH dapat memberikan bantuan kepada saya?

Atas penjelasannya saya ucapkan banyak terima kasih.

hormat saya,
natalia

Anonymous said...

Bagaimana kalau ibu A (WNI) dan bapak B (WNA) menikah di luar negeri sejak 5 tahun yang lalu, tetapi tidak pernah didaftarkan di Kedutaan Indonesia di sana. Anak lahir di luar negeri SEBELUM MENIKAH yang dengan otomatis memiliki kewarganegaraan WNA. Dalam akte kelahiran anak terbitan luar negeri, tidak tercantum nama ayah sama sekali karena pada saat itu ayah tidak mau dengan anak itu. Pernikahan terjadi setelah anak itu lahir. Setelah 3 tahun mereka berpisah tanpa cerai di luar negeri, ibu A (WNI) membawa anak ke Indonesia dengan persetujuan B (WNA). Kemudian, setelah 1 tahun anak sekolah di Indonesia, B (WNA) berubah pikiran dan menggugat A dengan hukum luar negeri bahwa A menculik. Anak sudah bersekolah di Indonesia dan berbahasa Indonesia penuh, tidak bisa berbahasa asing lagi.
Kemungkinan B akan ke Indonesia untuk menuntut A dengan hukum Indonesia. Sampai saat ini anak sudah 2 tahun lebih di Indonesia. Bagaimana kedudukan A dalam kasus ini? A dan B belum bercerai, tetapi perkawinan tersebut tidak pernah didaftarkan di Kedutaan Indonesia semasa menetap di luar negeri dan tidak pernah juga didaftarkan di Catatan Sipil Indonesia sekembalinya A ke Indonesia bersama anak.

Mohon penjelasan. Terima kasih.

Anonymous said...

Yth,
Saya Raras mahasiswa Universitas Brawijaya.Saya ingin menanyakan terkait kasus pernikahsn siri antara Ayu Azhari dan Teemu Yusuf yang berkebangsaan Finlandia yang saat ini keduanya telah becerai.Bagaimana status kewarganegaraan si anak dipandang dari aspek Hukum Perdata Internasional Indonesia dan UU No. 12 Tahun 2006?

Terima kasih

Anonymous said...

Yth,
Apakah anak yang lahir dari pernikahan secara agama islam saja dari perkawinan campuran dengan orang asing bisa mempunyai dua pasport? disebabkan status dwi kewarganegaraan si anak.

Bl@d3_K!ller said...

Yth,
Saya ingin bertanya soal permasalahan status anak di luar nikah ini. Bagaimana status anak yang lahir diluar nikah ini, apabila faktor kedua orang tuanya tersebut berbeda agama? apabila Ibu dan Ayahnya tidak mampu untuk pergi ke negara yg dapat mengesahkan status pernikahan kedua orang tuanya tersebut, bagaimana bila kedua orang tuanya ingin anaknya tersebut di akui secara sah oleh negara? thanks.

Anonymous said...

saya sudah menikah dengan WNA Rusia selama 4 tahun. Sebelum saya menikah WNA sudah mempunyai anak (12 thn sekarang)dari mantan istrinya yang WNA juga.Karena mendapat hak asuh sepenuhnya,bahkan mantan istrinya yang WNA tersebutpun memberikan surat kuasa bahwa" Ibu memberikan hak penuh kepada si bapak untuk menentukan jalan hidup yang untuk si anak sampai berumur 18 tahun,tanpa ada tuntutan di kemudian hari". Anak WNA ini sudah bersekolah di Indonesia selama 4 tahun dan sudah lancar berbahasa Indonesia.
pertanyaan saya adalah
1.Bisakah saya sebagai ibu(tiri WNI)mendapatkan surat pengangkatan anak untuk anak WNA ini bersarkan isi surat kuasa jika bapaknya menginjikan?
2.bisakah anak WNA ini mendapatkan kewarganegaraan Indonesia?

Anonymous said...

mohon penjelasannya secara detil dan awam. terimakasih.

Anonymous said...

Yth,Bapak

saya mempunyai anak perempuan yang berumur 4 tahun,dengan tampa ikatan pernikahan dengan warga asing berkewarga negaraan amerika.

sejak saya hamil dia berjanji dgn saya akan memberi nafkah anak saya sampai berumur 18 thn,setelah umur 4 tahun dia berhenti memberi nafkah..

yang saya tanyakan bapak,bisa kah saya menuntut dia dg hukum,atau meminta pengakuan tertulis mengenai anak saya,kalau anak saya adalah anak kandung nya.dan dgn hukum yang berlaku..terma kasih.

Hyeyoung Lee said...

maaf saya mempunyai masalah yang sama dengan anda, bisakah anda share pengalaman anda
anak saya berusia 2 tahun

terimakasih